Beberapa tahun belakangan ini, Gen Z sering kali menjadi topik perbincangan hangat di media sosial karena gaya hidup mereka yang cenderung berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.
Mulai dari cara bekerja, menikmati waktu luang, sampai memandang arti kebahagiaan, Gen Z kini lebih fokus pada keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibanding sekadar mengejar kesibukan atau pengakuan sosial.
Dari perubahan inilah kemudian lahir tren dan istilah baru, salah satunya Quiet Living. Gaya hidup yang lebih tenang, sederhana dan fokus pada kebahagiaan-kebahagiaan kecil dari sekitar.
Apa Itu Quiet Living?
Quiet Living adalah gaya hidup yang fokus pada ketenangan dan kesederhanaan. Bukan berarti hidup jadi anti-sosial atau harus tinggal jauh dari keramaian, tapi lebih ke memilih hidup yang terasa nyaman dan nggak terlalu melelahkan.
Orang yang menjalani Quiet Living biasanya mulai mengurangi hal-hal yang bikin stres berlebihan, seperti terlalu sibuk mengejar validasi sosial, overworking, atau terlalu sering scrolling media sosial.
Intinya, gaya hidup ini ngajak kita untuk menikmati hidup dengan tempo yang lebih pelan dan sadar sama momen-momen kecil sehari-hari.
Apakah Quiet Living Sama dengan Slow Living?
Meski terdengar sama, tapi Quiet Living itu berbeda dengan slow living. Perbedaan ini terletak pada fokusnya.
Slow Living berbicara tentang memperlambat tempo hidup, sedangkan Quiet Living berbicara tentang menciptakan ruang hidup yang lebih hening, minim tekanan, dan tidak selalu membutuhkan validasi dari luar.
|
Quiet Living |
Slow Living |
|
Fokus ke ketenangan mental |
Fokus ke ritme hidup |
|
Mengurangi noise & overstimulation |
Mengurangi kecepatan |
|
Tidak ingin selalu terlihat |
Tidak ingin selalu terburu-buru |
|
Anti performative lifestyle |
Anti rush culture |
|
Cenderung introverted energy |
Cenderung mindful lifestyle |
|
“Aku nggak harus selalu hadir.” |
“Aku nggak harus selalu cepat.” |
Kenapa Quiet Living Mulai Diminati?
Sebenarnya, gaya hidup ini bukan hanya terjadi pada Gen Z, tapi milenial dan sebagian besar anak muda. Penyebab utamanya tentu karena rasa lelah dari tekanan banyak hal, entah itu ekonomi, karier dan pencapaian lainnya. Apalagi, algoritma media sosial yang memaksa kita untuk menyaksikan pencapaian orang lain yang lebih besar dari kita.
Berikut, beberapa alasan kenapa Quiet Living makin populer.
1. Capek dengan Hidup yang Serba Cepat
Rutinitas yang padat ditambah tuntutan produktivitas sering bikin banyak orang merasa burnout. Belum lagi notifikasi media sosial yang nggak ada habisnya membuat pikiran jadi sulit benar-benar istirahat.
Quiet Living hadir sebagai cara untuk memperlambat ritme hidup dan memberi ruang buat diri sendiri bernapas.
2. Kesadaran Akan Kesehatan Mental
Sekarang semakin banyak orang sadar kalau kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Karena itu, aktivitas yang bikin pikiran lebih tenang mulai banyak dicari.
Nggak heran kalau tren seperti journaling, healing, sampai digital detox makin populer beberapa tahun terakhir.
3. Bosan dengan Overstimulation
Terlalu banyak informasi dan hiburan digital ternyata juga bikin otak cepat lelah. Quiet Living membantu seseorang untuk lebih selektif terhadap hal-hal yang dikonsumsi sehari-hari, baik secara emosional maupun digital.
4. Ingin Menikmati Hidup Lebih Sederhana
Banyak orang mulai menyadari kalau kebahagiaan nggak selalu datang dari hal besar. Kadang, hal-hal kecil seperti menikmati kopi pagi, baca buku, atau jalan santai justru terasa lebih menenangkan.
Aktivitas Quiet Living
Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan ketika seseorang memilih untuk melakukan Quiet Living, seperti:
1. Membaca Buku
Membaca buku jadi salah satu aktivitas yang identik dengan Quiet Living. Selain bikin lebih fokus, membaca juga membantu kita beristirahat sejenak dari layar gadget dan media sosial.
Nggak harus buku berat atau penuh teori. Novel ringan, buku self-improvement, atau cerita santai juga bisa jadi teman menikmati waktu tenang.
2. Menulis Jurnal (Journaling)
Journaling adalah cara sederhana untuk menuangkan isi pikiran dan perasaan. Aktivitas ini cukup membantu untuk mengurangi overthinking dan membuat pikiran terasa lebih lega.
Kamu bisa menulis apa saja, mulai dari rasa syukur, target harian, sampai hal-hal kecil yang terjadi selama sehari.
3. Jalan Pagi (Morning Walk)
Jalan pagi jadi salah satu kebiasaan kecil yang banyak dilakukan orang yang menerapkan Quiet Living. Udara pagi yang segar dan suasana yang masih tenang bisa membantu memperbaiki mood sebelum mulai beraktivitas.
Nggak perlu lama-lama, bahkan jalan santai 15–30 menit tanpa scrolling media sosial sudah cukup membantu tubuh dan pikiran jadi lebih rileks.
4. Detoks Digital
Quiet Living juga erat kaitannya dengan digital detox atau mengurangi penggunaan gadget untuk sementara waktu.
Coba mulai dengan membatasi screen time, mematikan notifikasi yang nggak penting, atau mengurangi waktu scrolling sebelum tidur. Kadang, ketenangan justru datang saat kita berhenti menerima terlalu banyak informasi sekaligus.
LinkAja Bantu Jalani Quiet Living dengan Lebih Praktis
Menjalani Quiet Living bukan berarti harus serba ribet atau menghindari teknologi sepenuhnya. Justru, teknologi yang praktis dan memudahkan aktivitas sehari-hari bisa membantu hidup terasa lebih tenang dan efisien.
Salah satunya dengan menggunakan LinkAja untuk kebutuhan transaksi harian. Mulai dari pembayaran cashless, beli kebutuhan sehari-hari, sampai bayar tagihan bisa dilakukan lebih cepat tanpa perlu repot membawa uang tunai atau antre terlalu lama.
Dengan transaksi yang lebih praktis, kamu jadi punya lebih banyak waktu untuk fokus ke hal-hal yang benar-benar penting: mulai dari menikmati waktu istirahat, journaling, jalan pagi, sampai sekadar menikmati hidup dengan ritme yang lebih santai.